my own space: Menjelajahi Imajinasi Anak

Friday, December 20, 2013

Menjelajahi Imajinasi Anak

"Ciptakan suasana menyenangkan ketika anak2 belajar agar otak dan emosi anak terbuka, bergairah dan kreatif. Dari sanalah lalu daya serap akan melebar"

Anak2 memiliki dunianya sendiri. Anak2 juga tidak bisa dipaksakan untuk berperilaku layaknya orang tua. Ali bin Abi Thalib pernah menyebutkan bahwa pendidikan yang harus kita berikan kepada anak2 kita, tidak bisa disamakan dengan bagaimana ketika kita memperoleh pendidikan dari orang tua kita. Karena kita waktu dulu adalah untuk generasi saat ini, sedangkan anak kita saat ini adalah untuk generasi yang akan datang.


 Ketika di ruang kelas si anak sedang asyik memerhatikan di dinding dan lampu2, si guru langsung menghardik dan memerintahkan si anak untuk segera memerhatikan sang guru. Aneh, guru ingin diperhatikan si anak. Seharusnya, si gurulah yang memerhatikan anak. Kenapa tidak kita tanyakan, “Anakku, kamu sedang meliat apa, sayang?” Mungkin saja si anak akan menjawab, :Bu Guru, saya melihat dinding itu seperti warna amplop yang diterima oleh Ayah kemarin.” Kemudian Guru tersebut akan mendekat dan menyentuh lembut, “Oh ya putih, indah, kan? Memang amplop putih milk Ayah ananda itu dari mana?:” Setelah cukup lama si anak terdiam, lalu ia menjawab perlahan,”Amplop warna putih itu datang dari kantor Ayah. Kata Mama, Ayah tidak boleh lagi bekerja disana,’ lalu sang anak pun menangis.

Kita tidak mengetahui bila sesungguhnya si anak sedang menyusun anolog sendiri, yang ia rangkai peristiwa2 keseharian di rumahnya. Hal ini mungkin salah satu contoh dimana si anak sedang menemukan peristiwa hanya karena melihat warna. Dari jenis peristiwa ini, tentu kita memiliki banyak kesempatan untuk meraba – dan sekali lagi – jangan sampai terlalu cepat mengambil kesimpulan. Siapa yang bisa menebak, kalau ternyata si anak sedang membayangkan dirinya sebagai tokoh pahlawan impiannya atau sedang mengamati sesuatu dan seterusnya.

Dekati, sentuh dan bisikan apa yang sedang diimajinasikan anak kita. Lalu, jadilah pendengar yang baik. 
(by Komaruddin Hidayat)